Selasa, 29 Juni 2010

Hanya Cinta Yang Tak DiCintai

Hanya Cinta yang Tak Dicintainya

Jam ini masih sama, masih seperti kemarin. Aku duduk didekatnya, lebih tepatnya berjarak tak jauh darinya. Sejenak aku kembali mengenang waktu 1 bulan yang lalu, di saat aku untuk pertama kalinya bertemu dan berkenalan dengannya. Tanpa kuduga, aku mulai menaruh perhatian padanya.
Hari itu, hari pertama untuk kami, siswa-siswi baru untuk memperkenalkan ndiri di depan kelas. Masih terdengar jelas di telingaku saat ia memperkenalkan diri.
“Nama aku Galang Adidaya. Biasa dipanggil Galang, dari SMP G”. Mulai saat itu, kuberikan sebagian besar perhatian pada dirinya. Tak disangka untuk pertama kalinya aku bisa berdebar di pertemuan pertama dan semakin lama aku mulai merasakan inta untuknya. Namun aku hanya menatapnya. Rumus-rumus kimia yang sedari tadi memadatkan udara di sekitarku mulai memcair secara perlahan, seiring datangnya bel istirahat. Lega rasanya terbebas dari cengkeraman rumus kimia yang dapat membekukan otakku. Tapi hati ini malah semakin risau di kala retinaku kehilangan punggungnya.
Dan jam pelajaran selanjutnya kutanapkan pandanganku tepat pada satu sasaran. Galang Adidaya. Sebetulnya akupun tak tau mengapa, hal apa yang menarik darinya. Walau kuakui dia manis, lumayan cool, dan yeah, dia sedikit sok tau dan tentunya gokil. Dan yang paling penting, dia baik.
Pernah suatu hari, aku pulang sore dan belum dijemput, padahal sekolah sudah sepi dan hari sudah petang. Entah kenapa mendadak dia dating padaku dan menawarkan jasa untuk mengantarku pulang. Padahal, namaku secara pasti saja ia lupa, dia hanya mengingat bahwa aku salah satu teman sekelasnya.
Perasaanku yang ingin selalu akrab dan dekat dengannya semakin kuat dan tidak bisa kutahan. Membuat aku menggila bahkan paranoid kala memikirkannya.
Sampai suatu sore, saat aku membuka phonebook HP-ku, aku lihat nama “Galang X.F”. aku terkejut. Inikan Galang Adidaya, aku bahkan tak ingat sama sekali bagaimana bisa nomomr HP-nya tersimpan di situ.
Aku adalah seorang SMSmania dan rasa gatal yang hebat mulai merayapi segala bagian tanganku untuk segera memenet tombol calling pada nomor Galang. Tapi, apa yang akan aku katakana? Kata bingung memenuhi otakku hingga tugas Sejarah yang aku kerjakan memaksaku untuk menelponnya malam-malam.
Jantungku berdetak begitu hebat, dan.. “Halo”, terdengar sapaan dari arah seberang sana. “Halo. Ini Galang kah? Ini…” aku terburu sambil menahan nafas.
“Yap, kenapa kok telpon malem-malem?” tanyanya, memotong kalimatku.
“Sebelumnya, maaf ya ganggu. Gini ni”. Lalu kuceritakan masalah yang kuhadapi.
“Oh gitu.. Ya udah, itu kamu tinggalin dulu aja, tunggu bentar aku SMS-in cara ngerjain soal itu.”
“Kalau gitu, thanks banget ya Lang.”
Berhenti pita suaraku bergetar, malah jantungku berdebar semakin cepat.
Tak kusangka sejak malam itu aku malah jadi rajin SMS-an dan telpon-telponan dengannya. Aku ge-er. Lalu tahap selanjutnya, aku selalu bergumul dengan spekulasi indah yang menjagaku di dunia yang kumiliki.
Lea tercengang dan setengah menahan tawa saat aku menutup cerutaku tentang Galang. Namun usahaku tak berhasil karena tawanya langsung peah membuat orangn yang ada di KFC menoleh bahkan melotot kearah kami. Masih diselangi tawa yang ia sembunyikan dengan susah payah, Lea akan membantuku yang memang sedikit pendiam dan kuper ini. Yang jelas hal pertama yang akan ia lakukan adalah menanyakan pada Galang tentang aku.
Masih kulekatkian pandanganku pada Galang yang tak pernah sadar bila kuperhatikan. Tiba-tiba sesosok cewek yang aku tahu itu adalah Lea, berjalan kearahnya lalu duduk di depannya. Dalam hitugan detik mereka sudah tertawa dan bercanda. Tak lama, Lea menghampiriku. Kulihat senyum simpul di wajah Lea, aku tak bisa mengartikan senyum itu sampai ia tiba di hadapanku dangan berlari kecil.
Lea duduk, dan langsung memberikan MP3 deserta headset padaku. Langsung saja kuputar recorder yang merekam pembicaraan Lea dan Galang beberapa waktu lalu. Percakapan yang berdurasi 6 menit 28 detik itu sudah berputar 4 menit 13 detik sampai…. “Eh, Lang btw kamu sering SMS-an and teipon-telponan sama dia ya?”.
“Ia, lumayan juga. Tapi gak sering-sering banget. Emang kenapa?”
Ciiee.. terus gimana perasaanmu, ya respons kamu ke dia gitu..”
“Ya, biasa aja aku senang kok ngobrol ma dia. Tapi dia anaknya agak pemalu gitu ya? Eh, tapi juju raja ya, Della itu anaknya yang mana ya, aku samara-samar ingetnya he..he”
Stop! Bareng kuklik tombol stop pada MP3 Lea. Aku sudah tak peduli lagi apa isi pembicaraan mereka selanjutnya. Aku sudah tidak saggup lagi menahan butiran air mata yang sudah mendorong keluar.kutelungkupkan wajahku ke pundak Lea yang memelukku, lalu menangis tanpa suara.
Puas menangis, aku langsung menyesuaika diri dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang kusukai. Lalu aku tersenyum saat aku melihat sesobek kertas yang kutempel di bloknite biru lautku.
Aku bukan cinta yang ditolaknya, hanya cinta yang tak dicintainya.
Kalimat indah dari seorang sahabatku, Ayu.

(sumber KR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar