Selasa, 29 Juni 2010

Kini Dia Galang

Semilir angin malam, mulai merasuk di tubuh ini. Dendangan lagu ‘Mengenangmu’ milik Kerispatih, masih mendayu-dayu di telingaku. Ku buka jendela kamarku, menatap bintang, (dia seolah menemani kesendirianku). Seperti halnya bayang sebentuk wajah yang pernah mengisi hari-hariku. Galang, aku ingat hari-hari dimana kita bercanda, tertawa, sedih, menangis. Kecelakaan tragis tepat di hari ulang tahunnya, mengantarnya pada kehidupan baru di dunia fana.
Kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Sekejap mimpi-mimpi itu hadir. Seperti malam-malam sebelumnya, Galang selalu menghampiriku. Mengucap janji di tahun baru nanti dia akan mengajakku ke Bukit Bintang. Di sana aku pertama kali bertemu Galang. Mungkin semua itu hanya omong kosong. Mana mungkin Galang hadir di sana dan memenuhi janjinya. Aku sadar kini kita berbeda dunia.
*****
Sorot sinar matahari membuatku terbangun dari tidurku. Terlihat Mama membuka tirai kamarku. “Pagi, Nin! Cepat bangun nanti terlambat ke sekolah! Ayam aja udah bangun, masa anak mama kalah sama ayam!” ujar Mama.
“Iya, Mamaku! Masa Nina dibandingan sama ayam, huh!” jawabku kesal.
Bergegas melepas selimut dari badanku dan beranjak untuk mengambil handuk, bersiap-siap untuk mandi dan berangkat ke sekolah. Seperti biasa, sarapan dengan makanan yang sudah disiapkan Bi Inah dan berangkat ke sekolah diantar Pak Andi.
“Nina berangkat dulu ya, Ma!” teriakku dari ruang makan dan segera keluar rumah menemui Pak Andi.
Setangkai bunga mawar putih dan sepucuk surat dengan amplop berwarna ungu di atas mejaku. Ku buka amplop itu, aku tercekat. “Tidak mungkinn,” ucapku pelan.
Surat itu berasal dari Galang?. Galang siapa? Batinku. Aku hamper lupa, hari ini hari ulang tahunku, tanggal 31 Desember. Dalam surat itu Galang ingin aku menemuinya di taman sekolah pada jam dua siang.
“Nina!” sapa seorang cowok saat aku tiba di taman sekolah. “Happy Birthday!” ucapnya sambil memberikan setangkai mawar putih padaku.
“Kamu Galang?” tanyaku heran.
“Ya, aku Galang! Mungkin kamu tidak mengenalku tapi aku tahu semua tentang kamu!” jawabnya. “Galang siapa? Kamukan yang…” perkataanku terpotong. “Mungkin kamu pernah melihatku! Aku Galang yang sering bermain basket di lapangan basket sekolah tiap pulang sekolah! Seperti yang Galang lakukan tiap pulang sekolah, ya kan?” ujarnya.
“Kenapa kamu tahu semua tentang Galang?” tanyaku penasaran. “Karena aku Galang! Galang yang pernah mengenal hatimu!” katanya singkat. “Apa maksud semua itu?” tanyaku.
“Tunggu aku di taman kota nanti malam jam tujuh! Kamu akan tahu semuanya!” katanya dan bergegas meninggalkanku.
*****

(sumber KR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar